Kata modern sudah begitu meluas di seluruh dunia. Sebutan dan ejaan “modern” secara umum diakui berasal dari bahasa Inggris. Penduduk di pelosok dunia manapun, cukup paham apa yang dimaksud dengan “modern” tersebut. Untuk Eropa sendiri, pengertian modern diungkapkan dengan kata yang mirip seperti Spanyol (moderno/moderna), Prancis (moderne), Jerman/Belanda (modern). Orang Inggris adalah bangsa Eropa yang paling kesohor menyebarkan pengaruh ke berbagai wilayah seberang lautan (overseas). Maka tak heran bila kata “modern” telah menjadi istilah asing yang ikut memperkaya “perbendaharaan kata” bahasa nasional di berbagai bangsa. Fakta ini diperkuat dengan meluasnya bahasa Inggris pada negara-negara bekas jajahan Inggris di seluruh dunia. Sesudah merdeka, negara-negara tersebut kemudian tergabung dalam Persemakmuran (Commonwealth). Akhirnya bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling populer dalam pergaulan antar bangsa.

Dalam bahasa prokem, lawan kata modern mungkin apa yang sekarang disebut sebagai “norak”. Tukul Arwana dalam talk show di suatu TV Jakarta sering mengatakan “ndeso” atau “katrok” atau “kampungan”. Yang dimaksud barangkali adalah sebagai lawan kata dari “kota”. Esensi yang tersirat dari kata-kata versi Tukul mungkin karena terdapat semacam perasaan bahwa sebagai “orang kota” maka dirinya sudah termasuk modern. Belum jelas apakah sebutan-sebutan tadi sudah memenuhi “standar” bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apakah ada jaminan bahwa semua penduduk sebuah kota sudah modern? Apakah Jakarta seutuhnya sudah modern sedangkan ibu kota negara ini masih dikelilingi daerah kumuh, banyak gelandangan dan pengemis, banyak gubuk liar, penerangan kota serta fasilitas umum yang sangat terbatas dan kurang terawat? Apalagi pada saat ini Jakarta masih terkena pemadaman listrik bergilir?

Bagi generasi terdahulu, pengertian modern dimaksudkan sebagai sesuatu yang lebih maju. Atau yang menunjukkan adanya perubahan dari sesuatu yang lama menjadi yang baru. Sebagai lawannya dikatakan “masih terbelakang”, atau agar lebih etis maka disebut “sedang berkembang”. Dari pemaknaan tersebut kemudian muncul istilah-istilah seperti: kehidupan modern, organisasi modern, gaya modern, arsitektur modern, tari modern dsb. Adapun tolok ukur daripada modern itu sendiri mungkin masih simpang siur. Dasar penilaiannya sangat tergantung kepada siapa dan seperti apa pengetahuan/pengalaman ybs serta kapan berlangsungnya. Seperti pernah terjadi dengan pengalaman pribadi awal tahun 1980an ketika penulis “disindir” oleh seorang asing yang mengatakan bahwa karena sudah memakai blue jeans maka dianggap sudah modern dan bergaya “cowboy” Amerika. Padahal jenis celana khas yang dipakai cowboy dan juga oleh kebanyakan orang tersebut, pada saat itu termasuk sudah usang.

Pada suatu saat modern akan menjadi usang, yaitu ketika muncul sesuatu yang lebih baru lagi. Sebagai contoh, pria yang memakai bahan dari nylon tahun 1950an adalah tergolong modern. Wanita muda yang pakai petty coat atau blus you can see tahun 1960an maka dianggap modern. Sampai 1980an, pria yang pakai tuxedo adalah modern. Masa lalu modern disebut klasik (classic). Maka dikenal model klasik, lagu klasik, musik klasik, gaya klasik dsb. Adapun suatu gaya atau mode tertentu yang muncul belakangan di era modern dan kemudian menjadi “in”, disebut sebagai “trend”. Sedangkan trend yang sudah diterima oleh masyarakat dan kemudian “mewabah” karena banyak peminatnya, lalu dinamakan trendy. Baik trend maupun modern pada dasarnya merupakan bentuk hasil karsa dan cipta manusia yang kreatif. Munculnya suatu daya kreatifitas paling mutakhir dan dinilai “cukup berani” di tengah suasana kehidupan modern, lazim dinamakan kontemporer (contemporary). Hasil karya ciptanya diberi label: gaya kontemporer, mode kontemporer, lukisan kontemporer, tarian kontemporer dsb.

Proses merubah dari sesuatu yang lama menjadi modern dinamakan modernisasi. Dalam sejarahnya, modernisasi hanya bisa dilakukan oleh manusia yang sudah berfikiran maju dan berkemampuan di atas rata-rata manusia lainnya. Katakanlah modernisasi negara, modernisasi perusahaan, modernisasi pendidikan dsb. Contoh modernisasi negara yang berhasil antara lain Jepang, Singapura, Dubai dll. Di bawah kekuasaan seorang kaisar yang sangat berpengaruh dan tradisi yang kuat, Komodor Perry dari Amerika Serikat telah merubah Jepang menjadi sebuah negara modern hingga sekarang. Lee Kuan Yew telah berhasil membangun Singapura menjadi negara pulau yang modern. Dubai telah disulap menjadi sebuah kesultanan yang modern.

Ciri-ciri negara modern diantaranya adalah kesejahteraan penduduk dan keamanan negara yang terjamin, adanya kepastian hukum, tegaknya demokrasi termasuk kebebasan pers serta hubungan internasional yang mulus. Kalaupun terdapat masalah di bidang politik atau ekonomi adalah dianggap wajar, namun tidak serius dalam masalah bangsa. Ciri orang modern terlihat dari sikapnya seperti suka keterbukaan, cara berpikir praktis, assertive, tidak berbelit dalam ucapan dan tindakan. Oleh karena itu untuk dapat membangun sebuah negara modern selain memenuhi syarat minim seperti tersebut di atas, kiranya diperlukan pemimpin yang berpandangan luas dan memiliki pola pikir modern pula. [3]