Disadari atau tidak, umumnya setiap orang mempunyai dorongan semangat untuk berbuat, memiliki atau mencapai sesuatu. Dorongan semacam itu disebut obsesi. Pada umumnya obsesi bersifat sangat pribadi. Namun melalui ilmu kepolisian atau psikologi, masih  mungkin untuk dapat mengetahui obsesi yang diduga melatar belakangi sikap seseorang.

Obsesi umumya timbul karena dirinya termotivasi oleh sesuatu hal yang memengaruhi, yaitu karena seseorang atau orang lain ataupun karena lingkungan. Bagi mereka yang datang dari keluarga atau lingkungan militer misalnya, bisa terobsesi menjadi tentara. Dari lingkungan guru, seseorang ingin menjadi guru. Dari kalangan politisi, kerabat atau generasi berikutnya ada kemungkinan juga ingin terjun di bidang politik.

Dalam keadaan normal, orang akan terobsesi untuk berbuat baik pada lingkungan yang baik pula. Demikian juga sebaliknya, bagi mereka yang berada pada lingkungan kurang baik

Yang mirip dengan pengertian obsesi adalah cita-cita. Biasanya setiap orang yang ingin maju sudah mempunyai cita-cita sejak masih muda. Keinginan tersebut bisa terobsesi oleh kehebatan seseorang dari kalangan keluarga, leluhur, orang-orang sukses di bidang tertentu atau nama-nama besar sebagai idola. Misalnya karena terobsesi oleh seorang jenderal yang hebat, maka si A bercita-cita untuk menjadi jenderal pula. Sebagai upaya untuk mewujudkan cita-citanya itu maka ia lalu masuk tentara. Karena leluhurnya adalah orang hebat dan terhormat pada jamannya, maka si B bercita-cita untuk menggapai kedudukan yang seperti itu. Karena tertarik dengan penampilan seorang pilot dan melalui profesi tersebut memungkinkan untuk bisa menjelajah dunia, maka si C bercita-cita untuk menjadi seorang pilot. Karena mengidolakan ayahnya sebagai wartawan yang hebat, maka ia bercita-cita menjadi seorang wartawan.

Pertautan antara obsesi dan cita-cita mewujudkan suatu ambisi. Suatu ambisi pada diri seseorang akan mudah terlihat dari sikap dan sepak terjang yang bersangkutan dalam setiap tindakan. Dikarenakan ambisinya yang kuat maka yang bersangkutan lalu berbuat maksimal, bahkan sering dikatakan sebagai “menghalalkan segala cara” untuk memenuhi ambisinya tersebut. Mudah dicari contoh di sekeliling kita, yaitu orang-orang yang sangat ambisi untuk memperoleh sesuatu atau mendapat kedudukan tertentu.

Tampilan ambisi akhir-akhir ini telah dipertontonkan dengan sangat nyata oleh para kontestan pada tiap pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung. Begitu kuatnya ambisi calon kepala daerah, maka pengaruhnya bagaikan magnit yang kuat bagi para pendukung fanatik.mereka. Akibat persaingan keras di antara para calon yang ambisius tersebut kadang-kadang berdampak negatif terhadap pihak yang kalah. Diberbagai tempat yang pemahaman demokrasi relatif belum matang, di pihak yang kalah terkesan masih kurang bisa menerima kenyataan atas kekalahan calon yang diunggulkan tersebut.

Dari berbagai buku mengenai biografi Suharto, tidak ada yang menyebut bahwa Suharto bercita-cita untuk menjadi presiden. Suharto muda terobsesi menjadi tentara sejak masih jaman Belanda dan disusul masa penjajahan Jepang, kemudian berlanjut sampai masa revolusi hingga Indonesia mencapai kemerdekaan penuh berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Perjalanan karir militer Suharto sangat cemerlang dan kemudian memegang berbagai jabatan penting hingga tingkat puncak serta memimpin angkatan bersenjata. Suharto juga menduduki jabatan menteri pada Kabinet Ampera dalam pemerintahan Presiden Sukarno. Ambisi Suharto untuk menjadi presiden mulai terlihat sejak menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) dari Presiden Sukarno. Suharto tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Bermula ia menjadi pejabat presiden berdasarkan Ketetapan MPRS Tahun 1967 dan ambisinya dapat terwujud setelah pada tahun 1968 ditetapkan menjadi Presiden RI oleh MPR (hasil Pemilu 1967). Ciri khas Suharto sebagai negarawan dan pendiri Orde Baru adalah mengendalikan pemerintahan secara otoriter dan mampu bertahan hingga selama 32 tahun.

Dalam pengakuannya Prof. Dr. B.J.Habibie tidak bercita-cita ingin menjadi wakil presiden apalagi presiden. Ia mengaku tahu diri dan menganggap Suharto sebgai bapak dan guru baginya. Suharto menunjuk dirinya sebagai wakil presiden hasil pemilu 1987 dan saat Suharto lengser pada Mei 1998 Habibie ditunjuk untuk menggantikannya.   Habibie bersedia kembali ke Indonesia dari Jerman adalah karena diminta oleh Suharto dan terobsesi untuk ikut menyumbangkan tenaga serta pikiran bagi bangsa Indonesia. Habibie termotivasi oleh pertumbuhan teknologi dunia yang semakin canggih, ditambah pengalamannya yang cukup lama berdomisili serta bekerja di Jerman. Habibie mengaku memang berambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri dan berteknologi tinggi.

Harmoko mungkin tidak dari awal bercita-cita untuk menjadi wartawan. Namun setelah  menjadi wartawan, karirnya menanjak luar biasa. Ia terobsesi untuk memajukan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), organisasi profesi yang ditekuninya itu. Ia berhasil menjadi ketua PWI dan  memiliki penerbitan surat kabar sendiri. Debut karirnya sebagai tokoh pers nasional telah dibuktikan dengan prestasi puncak Harmoko sebagai menteri  penerangan semasa Orde Baru pada Kabinet Pembangunan IV, V, VI. Mungkin karena terobsesi oleh kondisi nasional pada waktu itu, ia juga aktif di bidang politik melalui Golkar yang kemudian mengantarkannya menjadi ketua umum Golkar. Reputasi dalam karir politiknya tersebut memungkinkan Harmoko menempati jabatan Ketua DPR. Untuk bercita-cita menjadi presiden pada waktu itu sangat tidak mungkin, karena peran sentral Suharto yang sangat kuat dan tak tergoyahkan. Namun sangat mungkin bahwa Harmoko juga berambisi untuk menjadi wakil presiden. Ini merujuk kepada pengalaman Adam Malik yang Ketua DPR pada waktu itu serta mantan Menlu, kemudian menjadi wakil presiden. Demikian pula Sudharmono yang ketua umum Golkar dan mantan menteri sekretaris negara, kemudian dipilih oleh Suharto menjadi wakil presiden. Ketika ditanya mengapa Harmoko yang karirnya lebih lengkap yaitu telah menjadi menteri dan Ketua DPR serta Ketua Umum Golkar tidak mengikuti jejak Adam Malik dan Sudharmono sebagai wakil presiden, langsung dijawab bahwa Suharto yang lebih suka memilih Habibie.

Cita-cita Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk meniti karir di bidang militer, dapat dilihat atas keputusannya saat ia memasuki Akabri di Magelang. Setelah sukses di bidang militer hingga menyandang pangkat jenderal dan kemudian menjadi menteri, SBY terobsesi untuk menjadi presiden. Ia membuka lembaran baru dan langsung terjun ke dalam kegiatan politik praktis. SBY lalu membentuk Partai Demokrat sebagai kendaraan politik untuk memenuhi ambisinya tersebut. Akhirnya ia terpilih menjadi presiden pada pemilihan presiden tahun 2004. Meski tidak terang-terangan menunjukkan ambisi untuk menjadi presiden lagi melalui pilpres 2009 yad, namun dari sekarang sudah nampak dari pernyataannya bahwa ia akan memutuskan hal tersebut pada waktu yang tepat nanti. [7]