Urusan disiplin adalah hal sangat mendasar, manusiawi, alami dan melekat pula pada setiap insan. Semua makhluk di dunia tidak terlepas dari disiplin. Alam semesta termasuk flora dan fauna juga mengenal disiplin. Faktor disiplin sangat mewarnai kehidupan di seantero jagat raya ini. Bangaimana jadinya dunia kita bila disiplin alam sudah berubah? Misalnya bagaimana bila matahari terbit tidak dari Timur? Atau bagaimana seandainya es di kutub mencair semua?
Tuhan telah mengatur disiplin dunia dengan regionalisasi serta spesifikasi yang tertib. Di belahan dunia bagian Barat dikenal adanya 4 musim dalam setahun yaitu : winter, spring, summer, autumn. Di wilayah tropis terdapat musim penghujan dan musim kemarau. Ada pula kondisi musiman seperti musim tanam dan musim panen untuk jenis tumbuhan/ tanaman tertentu. Ada lagi musim penangkaran (reproduksi) binatang tertentu. Namun walau hal serupa dapat dibudidayakan oleh manusia, tetap harus dilakukan secara disiplin agar dapat berhasil. Tidak dapat disangkal bahwa manusia harus belajar dari alam.
Tuhan telah menata dunia ini dengan apik dan disediakan untuk semua umat. Sedangkan manusia berkewajiban untuk mengelolanya. Hanya manusia yang ditakdirkan untuk bisa mengelola dunia, karena manusia adalah satu-satunya umat yang dikaruniai akal. Untuk dapat mengelola dunia diperlukan disiplin. Siapapun yang berani melanggar disiplin alam, niscaya akan menanggung azab dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam kaitan dengan kelola dunia, bangsa Barat sudah sedemikian lama mengeksploitasi bumi mereka sendiri hingga usang. Nyaris mereka merusak ekosistem yang ada. Lalu mereka mencari lahan baru di wilayah lain, yang umumnya terletak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Mereka menyedot kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk kemakmuran sendiri. Hasilnya, mereka dapat tampil sebagai negara maju. Sebetulnya Indonesia terikat pada pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Dalam konteks ini terkesan bahwa penyelenggara negara kurang disiplin dalam mengemban amanat UUD, karena belum mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan memberikan konsesi sangat luas dan disiplin yang longgar kepada pemodal asing, pemerintah bagaikan setengah melepas hak kepemilikan bangsa sendiri.
Untuk kepentingan industri, negara-negara maju membangun rumah kaca (green house) yang ternyata membuat disiplin alam menjadi terganggu. Maka terjadilah pemanasan global (global warming) hingga menohok ruang ozone di langit serta mengakibatkan perubahan iklim. Terjadinya proses percepatan penyurutan air sungai di Kalimantan, khususnya wilayah Kalimantan Tengah adalah akibat pola hujan yang kacau. Pola kacau yang dimaksud ialah terjadinya pergeseran musim hujan dan kemarau yang tidak teratur lagi (Kompas 7/10). Kondisi ini adalah juga akibat kerusakan hutan yang disebabkan oleh tindakan kurang disiplin para pemegang konsesi hutan.
Berbagai disiplin sudah dibentuk oleh manusia seperti disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin belajar, disiplin militer, disiplin partai, disiplin organisasi, disiplin sekolah, disiplin anggaran dsb. Dikecualikan dalam pengertian ini adalah disiplin yang tidak menyangkut waktu, yaitu disiplin ilmu. Bermacam disiplin ilmu telah banyak dipelajari dan diajarkan sejak jaman dahulu hingga sekarang.
Disiplin bagaikan “barometer” bagi kualitas hidup manusia pada umumnya. Dalam hal ini disiplin tidak jauh dari sikap jujur dan etos kerja orang per orang. Manusia disiplin biasanya tampil tegas dan terukur. Dirinya mudah memahami persoalan yang dihadapi, karena sudah terlatih. Untuk menjadi disiplin diperlukan cukup waktu serta kesadaran tinggi. Orang sukses biasanya adalah pekerja keras dan menekuni bidangnya dengan penuh disiplin, sehingga kemampuannya diatas rata-rata manusia lainnya.
Disiplin berarti pula konsekuen atau konsisten. Dalam perbendaharaan politik Indonesia sekarang, hampir semua partai politik berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Diperkuat lagi dengan membubuhkan Pancasila sebagi asas partai. Apakah partai-partai politik yang mencapai jumlah 34 itu dengan konsisten dapat memenuhi janji mereka? Pertanyaan tersebut untuk sebagian mungkin akan terjawab pada Pemilu 2009 yad. Kemudian dalam kampanye pemilihan presiden atau kepala daerah, para calon selalu unjuk keunggulan berikut janji-janji mereka. Apakah setelah mereka berhasil menjadi presiden atau kepala daerah betul-betul konsekuen dapat memenuhi janji-janjinya?
Disiplin sangat erat dengan pengertian taat atau patuh. Bandingkan dengan beberapa ungkapan seperti : taat hukum, taat agama, taat ibadah, taat asas, taat aturan, taat prinsip, taat kaidah dsb. Demikian pula makna yang terkandung dalam kata “patuh” seperti yang berikut : patuh atasan, patuh nasihat dokter, patuh nasihat orang tua, patuh keputusan pengadilan, patuh keputusan partai/organisasi dll.
Agama telah mengajarkan disiplin kepada para umatnya. Disiplin di bidang agama terlihat antara lain dari sikap mereka yang taat dalam beribadah, patuh terhadap ajaran agama yang dianut serta menjauhi hal-hal yang dilarang. Contoh disiplin luar biasa dalam Islam adalah kewajiban shalat lima waktu setiap hari seumur hidup serta menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.
Menanamkan jiwa disiplin kepada setiap orang pada dasarnya tidak harus dengan cara paksa. Tidak pula harus menggunakan pola disiplin militer. Bila dipaksakan justru bisa kontra produktif dan cenderung menjurus kepada sifat-sifat militeristik. Kiranya dapat diupayakan model atau cara-cara untuk membukakan pintu masuk kearah disiplin yang sesuai dengan kebutuhan sekarang. Pintu pertama, yaitu perilaku pejabat/pemimpin yang jujur, disiplin, santun dan rela melayani publik. Dari situ diharapkan figur aparat yang dapat dijadikan panutan bagi segenap warga. Pintu kedua, melalui jalur pendidikan umum agar dapat menanamkan kebiasaan disiplin sejak dini. Di awal kemerdekaan RI sudah ada pendidikan budi pekerti pada tingkat sekolah dasar. Kondisi sekarang justru menuntut lebih dari itu. Kebiasaan antri misalnya, merupakan bagian dari disiplin yang perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Pintu yang berikut, yaitu pembinaan di berbagai bentuk pelatihan baik dikalangan instansi, perusahaan maupun organisasi, yang umumnya sekedar formalitas sektoral belaka. Yang demikian itu selain eksklusif juga bermuatan ruang lingkup dan cara pandang yang terbatas. Sejauh ini aktifitas tersebut dirasakan masih kurang efektif dalam membantu upaya penegakan disiplin pada skala nasional. Intinya bukan sekedar untuk keperluan jenjang jabatan/karir ataupun peningkatan prestasi perusahaan, namun perlu penekanan bagi pembentukan pribadi yang berbudi luhur serta kesetiakawanan sosial yang tinggi. Pintu lain, adalah pentingnya pendidikan kepribadian pada lintas generasi. Melalui model ini diharapkan dapat meredam watak keras yang dipertontonkan dalam berbagai aksi tawuran, keroyokan, bentrok antar kelompok/gang, tindakan sadistik serta bentuk kekerasan lainnya.
Akibat suatu tindakan kurang disiplin dapat menimbulkan suasana yang tidak teratur, lingkungan kacau dan waktu yang tidak terukur. Bahwa tidak mengindahkan disiplin akan berakibat fatal, terbukti dari berbagai macam kejadian yang tidak diharapkan. Sering terjadi kecelakaan di pelintasan rel kereta api, umumnya akibat kurang disiplin oleh pengemudi kendaraan di tempat tersebut. Tindakan nekat menerobos lampu merah di persimpangan jalan raya, merupakan pelanggaran disiplin yang sangat membahayakan bagi dirinya dan orang lain. Bangunan masih baru bisa ambruk adalah akibat tindakan pemborong yang ceroboh.
Jalanan umum sering cepat kembali berlubang dan rusak parah, karena beberapa hal. Pertama, mungkin kontraktor pembuatan jalan yang kurang disiplin. Kedua, karena aparat kurang disiplin dalam pengawasan. Ketiga, karena kurang disiplin dalam hal perencanaan (well planned). Hingga awal Oktober 2008 atau dua bulan menjelang berakhirnya tahun anggaran 2008, hampir tidak terlihat adanya kegiatan perbaikan jalan rusak di Jakarta (Kompas 7/10). Keempat, karena kurang disiplin dalam penjadwalan. Perbaikan jalan di Jakarta yang seharusnya sudah dilakukan sejak Mei 2008, hingga Oktober 2008 masih tertunda. Akibatnya jalan terus bertambah rusak dan semakin parah. Hingga tiba musim penghujan nanti, mungkin proyek bisa tertunda lagi. Yang terakhir, kurang disiplin dalam anggaran. Proyek-proyek pemerintah banyak yang telantar, sehingga kerusakan infrastuktur menjadi semakin parah. Hingga akhir September 2008, penyerapan anggaran Departemen Pekerjaan Umum (PU) masih kurang dari 50%. Dari anggaran PU tahun 2008 sebesar 32,8 triliun rupiah, realisasi penyerapan anggaran baru sekitar 16 triliun rupiah (Kompas 7/10).
Sering terdengar gaji guru atau honor pegawai instansi tertentu terlambat dibayar, dapat diduga sebagai akibat kurang disiplin administrasi di lingkungan kantor terkait. Musibah banjir yang melanda Jakarta dan kota-kota lain, diantaranya adalah akibat dari kurang disiplin para warganya. Kecurangan yang terjadi di berbagai instansi sangat mungkin sebagai akibat kurangnya disiplin para pelaksana di bidang masing-masing.
Mengapa hal-hal demikian bisa terjadi? Mungkin karena para penyelenggara pada sektor-sektor tersebut beranggapan bahwa kejadian-kejadian seperti itu sebagai hal lumrah saja. Golongan macam itu cenderung bersikap masa bodoh dan berlaku ceroboh, sehingga negara banyak dirugikan. Mereka yang langsung terlibat memilih untuk tidak jujur dengan berbagai dalih semata-mata untuk pembenaran belaka. Sikap masa bodoh dan ceroboh itu pula yang mungkin ikut menyuburkan korupsi di Indonesia.
Kondisi Indonesia yang masih banyak tertinggal dari bangsa-bangsa lain, tidak terlepas dari masalah disiplin. Menko Polkam Sudomo semasa Orde Baru pernah mencanangkan disiplin nasional, namun belum terbukti hasilnya. Bentuk atau pola disiplin nasional yang dimaksud juga tidak jelas. Yang sangat mendesak bagi bangsa Indonesia sekarang adalah kesadaran disiplin untuk berdisiplin. Bandingkan dengan Jerman, Jepang, Korea yang sempat hancur bisa bangkit lagi dan menjadi bangsa maju karena ada semangat untuk membangun disertai disiplin tinggi. Tanpa disiplin dipastikan bangsa Indonesia sulit untuk berubah dan berkembang. [9]